Dibalik Sejarah Barisan Pelopor SP LEM SPSI Lahirkan Militansi Diri Anggota

komarudin, 26 Mar 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:
OPINI- Barisan Pelopor (BAPOR) lahir atas inisiatif yang dipengaruhi oleh banyak faktor di SPSI. 
 
Herry Hermawan Komandan Barisan Pelopor Nasional BAPOR yang memiliki
Moto Hidup :“ Menjadi Sebaik-baiknya manusia dengan menebar banyak manfaat buat orang lain” ia bercerita tentang sejarah berdirinya BAPOR dalam sebuah MEDIA FSP LEM SPSI yang di tulis oleh Fand.
 
Faktor utama yang melatar belakangi lahirnya BAPOR adalah:
 
Minimnya militansi yang ada pada diri anggota SPSI. Program kerja organisasi yang selama ini menjadi dasar dan acuan gerakan SPSI tidak cukup mampu untuk membangkitkan militansi anggota. 
 
Pasca musyawarah pimpinan FSP LEM SPSI pada tanggal 28 maret 2011 BAPOR mulai di perkenalkan dalam rapat pimpinan DPP FSP LEM SPSI. Namun resistensi dan penolakan merupakan respon pertama yang didapatkan karena BAPOR dianggap tidak sesuai dengan budidaya yang ada di keluarga besar SPSI. 
 
Resistensi dan penolakan bukan melemahkan    gelora semangat malah berdampak semakin semangat kader FSP LEM SPSI Jakarta Utara untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan BAPOR pertama. Selanjutnya pendidikan dan pelatihan BAPOR yang pertama ini ditetapkan menjadi hari terbentuknya BAPOR yaitu tanggal 22 April 2011.
 
BAPOR memiliki kepanjangan dari Barisan Pelopor, yang sampai saat ini masih beranggotakan anggota SP LEM SPSI. 
 
Dengan adanya BAPOR menjadi harapan bagi anggota FSP LEM SPSI untuk bisa menjadi pelopor perbaikan organisasi SPSI dan tentunya menjadi pelopor perjuangan buruh pada umumya di tingakat yang lebih luas. 
 
Dalam menjalankan kerja-kerjanya BAPOR memiliki acuan yaitu:
 
Visi: menjadi kader buruh yang solid, kompeten dan bermoral serta proaktif dalam berbagai kondisi
 
Misi:
1. Mengembangkan dan meningkatkan keterampilan bapor bagi anggota fsp lem spsi
2. Menigkatkan soliditas, kompetensi dan moralitas diantara anggota fsp lemspsi
3. Menjadi media bagi upaya menarik simpati para buruh
4. Melaksanakan fungsi pelayanan, pengamanan dan pembelaan bagi federasi
5. Berperan aktif dalam upaya membantu korban bencana, penyelematan ligkungan dan social kemasyarakatan
 
Fungsi:
1. Pengkaderan ; goal poin bagi setiap anggota bapor adalah mampu mengkader buruh agar memiliki soliditas yang kuat, kompetensi yang meningkat dan ,moralitas yang baik
2. Pelayanan ; urgensi bagi setiap anggota bapor adalah melayani kepentingan perjuangan buruh secatra komprehensif sesuai denagan system dan mekanisme yang berlaku
3. Pengamanan ; meminimalisir dan mempersempit ruang bagi pelaku kejahatan terhadap aktifitas perjuangan buruh.
 
BAPOR memiliki banyak divisi dalam menunjang kerja-kerja dan tujuannya yaitu Divisi Pendidikan dan Pelatihan, Divisi Humas dan Propaganda, Divisi Logistic dan Amunisi, Divisi Penelitian dan Pengembangan dan Divisi Perempuan. BAPOR memiliki struktur komando.Dalam hubungan koordinasi dengan DPC ; contoh: DPC keluar instruksi aksi  dalam hal pengamanan atau pengawalan aksi maka pihak DPC berkoordinasi dengan Danporcab terkait teknis aksi yang dimaksud.
 
BAPOR memiliki tantangan secara internal untuk terus memberi pemahaman khususnya kepada perangkat organisasi yang notabene masih memiliki paradigma lama dalam menjalankan organisasi. Selain itu secara eksternal harus mampu menjalin kerja sama dengan elemen buruh dan masyarakat lainnya untuk dapat sama-sama berjuang mensejahterakan bangsa dan negeri Indonesia.
 
Filosofi atau makna dibalik lambang BAPOR adalah:
 
– Bingkai bentuk perisai maknanya pengamanan
– Tulisan BAPOR maknanya barisan pelopor
– Background coklat tanah maknanya pro buruh
– Background merah putih maknanya nasionalisme
– Roda gigi maknanya sector logam dan mesin, komitmen dalam perjuangan
– Background biru maknanya cita-cita kesejahteraan
– Bintang segi delapan kuning maknanya elektronik, religious dan cerdas
– Kepalan tangan kanan maknanya kekuatan, bermanfaat
– Petir maknanya tegas dan berani
Rantai maknanya solidaritas dan soliditas
“Pesan BAPOR untuk gerakan buruh Indonesia”
 
Gerakan buruh Indonesia kedepan seharusnya memiliki ideologi yang jelas yang teraplikasi dalam setiap aktifitas yang dilakukannya dan gerakan buruh Indonesia tidak boleh egois hanya mementingkan kepentingan buruh semata akan tetapi harus mulai melangkah menjalin kekuatan untuk sama-sama memperjuangkan kepentingan masyarakat yang lebih luas.
 
Jadi pada kesimpulannya sebuah organisasi apapun akan lebih bermanfaat dan hidup jika memiliki semangat dan saling memiliki sebuah nama organisasi, semoga perubahan kesejahteraan layak atau tidaknya seorang Buruh tergantung dari semuanya dalam organisasi.
 
 
Mesuji 26 Maret 2020
 
Udin Jurnalis Indonesiasatu Mesuji
PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu